10 cara ke depan untuk mengubah sistem pangan untuk iklim – kini diakui sebagai bagian penting dari solusi terhadap krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Di bidang iklim, Laporan IPCC terbaru (AR6) menyoroti bahwa opsi adaptasi dan mitigasi “tanah, air dan pangan” menawarkan potensi terbesar dalam merespons krisis iklim. Penerapan opsi-opsi ini – termasuk pengurangan konversi ekosistem alami dan penyerapan karbon pertanian – memerlukan transformasi yang mendalam dan luas. Di bidang alam, UNDP telah menjawab krisis hilangnya keanekaragaman hayati dengan meluncurkan Nature Hub yang baru dengan judul “Tidak ada iklim tanpa alam, tidak ada pembangunan tanpa alam”, yang menekankan sinergi antara pendekatan positif terhadap alam dan hasil iklim dan penghidupan.
Sementara itu pada COP28 di Uni Emirat Arab, Agenda Sistem Pangan dan Pertanian telah menjadi prioritas yang belum pernah ada sebelumnya pada COP iklim. Untuk pertama kalinya, para Kepala Negara dan Pemerintahan yang menghadiri COP28 berkomitmen pada Deklarasi Pemimpin tentang Sistem Pangan, Pertanian dan Aksi Iklim. Lebih dari 130 negara menandatangani Deklarasi ini – mencakup lebih dari 5,7 miliar orang, hampir 500 juta petani, dan 76 persen total emisi dari sistem pangan global. Lebih dari US$2,5 miliar telah dikerahkan untuk mendukung agenda iklim pangan, termasuk kemitraan senilai $200 juta antara UEA dan Bill & Melinda Gates Foundation. https://hari88.net/
1. Pertanian Vertikal
Pertanian vertikal adalah teknik menanam tanaman dalam lapisan bertingkat atau struktur yang ditumpuk secara vertikal, biasanya di lingkungan dalam ruangan yang terkendali. Dengan memanfaatkan ruang secara efisien dan menggunakan teknologi pencahayaan LED, pertanian vertikal dapat meningkatkan hasil panen per meter persegi dibandingkan dengan pertanian tradisional. Selain itu, pertanian vertikal mengurangi kebutuhan akan lahan subur dan air, serta memungkinkan penanaman sepanjang tahun tanpa tergantung pada kondisi cuaca. Ini sangat penting untuk mengatasi tantangan pertumbuhan populasi dan perubahan iklim.

2. Akuaponik dan Hidroponik
Akuaponik dan hidroponik adalah metode pertanian yang tidak menggunakan tanah, tetapi menggunakan air yang diperkaya dengan nutrisi untuk menumbuhkan tanaman. Akuaponik menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam sistem simbiotik di mana limbah ikan memberikan nutrisi bagi tanaman, sementara tanaman menyaring air untuk ikan. Hidroponik, di sisi lain, hanya menggunakan air dan nutrisi tanpa keterlibatan ikan. Kedua metode ini memungkinkan produksi makanan yang lebih efisien dengan penggunaan air yang lebih sedikit dan tanpa memerlukan pestisida kimia, membuatnya lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
3. Pertanian Presisi
Pertanian presisi menggunakan teknologi canggih seperti drone, sensor tanah, dan GPS untuk memantau dan mengelola lahan pertanian dengan lebih tepat. Data yang dikumpulkan membantu petani membuat keputusan yang lebih informatif tentang kapan dan bagaimana menanam, menyiram, dan memupuk tanaman. Dengan mengurangi penggunaan sumber daya yang tidak perlu dan mengoptimalkan input pertanian, pertanian presisi dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi dampak lingkungan. Inovasi ini memungkinkan penggunaan lahan yang lebih efisien dan mengurangi limbah, sehingga dapat memberi makan lebih banyak orang dengan sumber daya yang sama.
4. Pangan Rekayasa Genetika (GMO)
Rekayasa genetika dalam pertanian memungkinkan penciptaan tanaman yang lebih tahan terhadap hama, penyakit, dan kondisi lingkungan ekstrem. Tanaman GMO dapat dirancang untuk memiliki hasil yang lebih tinggi, memerlukan lebih sedikit pestisida, dan tumbuh di tanah yang kurang subur. Contohnya, tanaman seperti jagung dan kedelai yang telah dimodifikasi secara genetika dapat menghasilkan lebih banyak biji-bijian per hektar dan lebih tahan terhadap kekeringan. Dengan memanfaatkan teknologi GMO, pertanian dapat menjadi lebih efisien dan produktif, memungkinkan produksi makanan yang cukup untuk populasi dunia yang terus berkembang.
5. Pertanian Berkelanjutan
Pertanian berkelanjutan berfokus pada praktik-praktik yang mempertahankan atau meningkatkan produktivitas lahan sambil menjaga lingkungan. Ini termasuk rotasi tanaman, agroforestri, dan penggunaan pupuk organik. Dengan mengadopsi pendekatan yang lebih holistik terhadap manajemen lahan, pertanian berkelanjutan membantu mengurangi erosi tanah, meningkatkan kesuburan tanah, dan mengurangi ketergantungan pada input kimia. Praktik-praktik ini tidak hanya membantu memastikan pasokan makanan jangka panjang, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung keanekaragaman hayati.
6. Urban Farming
Pertanian perkotaan adalah konsep menanam makanan di kota-kota, baik di atap gedung, lahan kosong, atau menggunakan teknologi canggih seperti pertanian vertikal. Dengan mendekatkan produksi pangan ke konsumen, urban farming mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari transportasi makanan dan meningkatkan ketahanan pangan lokal. Selain itu, pertanian perkotaan dapat menyediakan ruang hijau di lingkungan perkotaan, meningkatkan kualitas udara, dan menyediakan sumber makanan segar bagi komunitas yang mungkin tidak memiliki akses mudah ke produk pertanian.
7. Agroekologi
Agroekologi menggabungkan prinsip-prinsip ekologi dengan praktik pertanian untuk menciptakan sistem produksi pangan yang lebih berkelanjutan dan tangguh. Dengan fokus pada keanekaragaman hayati, siklus alami, dan interaksi antara organisme, agroekologi berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada input kimia dan meningkatkan kesehatan ekosistem. Pendekatan ini membantu petani mengelola lahan mereka dengan cara yang lebih alami dan efisien, yang pada gilirannya dapat meningkatkan ketahanan pangan dan menjaga keseimbangan lingkungan.
8. Robotika dan Otomatisasi
Penggunaan robot dan otomatisasi dalam pertanian dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja manual dan meningkatkan efisiensi operasional. Robot dapat digunakan untuk tugas-tugas seperti penanaman, pemanenan, dan pemeliharaan tanaman, sementara sistem otomatisasi dapat mengelola irigasi dan pemupukan dengan presisi tinggi. Dengan mengintegrasikan teknologi ini, pertanian dapat mengurangi biaya produksi, meningkatkan hasil, dan mengurangi kerugian akibat kesalahan manusia. Selain itu, otomatisasi membantu mengatasi tantangan tenaga kerja di sektor pertanian, terutama di daerah dengan populasi yang menua atau kurangnya tenaga kerja muda.

9. Pertanian Biologis
Pertanian biologis berfokus pada penggunaan organisme hidup seperti serangga predator, mikroba, dan tanaman penutup untuk mengendalikan hama dan penyakit serta meningkatkan kesehatan tanah. Metode ini mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia dan pupuk sintetis, yang dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Dengan memperkenalkan agen biokontrol dan meningkatkan biodiversitas tanah, pertanian biologis menciptakan ekosistem yang lebih seimbang dan produktif. Praktik-praktik ini membantu menjaga kesehatan jangka panjang lahan pertanian dan memastikan produksi pangan yang lebih berkelanjutan.
10. Pemulihan Lahan Terdegradasi
Pemulihan lahan terdegradasi adalah upaya untuk mengembalikan produktivitas tanah yang telah rusak akibat praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, deforestasi, atau aktivitas industri. Melalui teknik seperti reforestasi, penggunaan tanaman penutup, dan pengelolaan air yang bijaksana, lahan yang terdegradasi dapat dipulihkan dan kembali produktif. Pemulihan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi pangan tetapi juga memperbaiki kualitas lingkungan secara keseluruhan, termasuk pengurangan erosi, peningkatan infiltrasi air, dan penyimpanan karbon. Upaya ini sangat penting untuk memastikan ketersediaan lahan pertanian yang cukup di masa depan dan menjaga keseimbangan ekosistem global.